PoP’s blog

another pop’s simply thinks

suara suara

Di setiap detakan waktu, tersembunyi dalam pekat malam, berbaur dalam keheningan pagi dan terselubung di antara riuh rendah tiap hari, ada suara-suara yang begitu dekat namun teramat jauh untuk dijangkau. Suara-suara yang menggema, menggerecoki menenangkan, memberi kehangatan. Suara-suara yang selalu kita dengar, dengan atau tanpa sadar.

Ah, suara-suara itu. Begitu mengganggu di telingaku. Suara-suara yang tak dapat kuhentikan, seakan memiliki kuasanya sendiri untuk terus mengendap di otakku, mengiang di telingaku selayaknya segerombol lebah yang terbang dan berdengung.

Aku mengenali suara-suara itu, suara-suara yang selalu sama kudengar sejak entah kapan aku mampou mengingatnya.

Suara-suara yang sama, selalu suara itu, yang bertahun lalu mendengung di telingaku, mencegahku mengamuk memukul anak-anak berseragam putih merah, kawan-kawanku di tempat yang orang-orang sebut sekolah. Suara-suara yang memberikan rasa hangat, memberikan ketenangan, ketika kuterduduk di sudut kamar, mendengarkan teriakan-teriakan marah seorang pria yang kupanggil bapak ditingkahi isak tangis ibuku.

Aku tahu aku mendengar lagi suara-sura itu, seakan menemaniku ketika sendiri, kutinggalkan bangunan yang dulu kusebut rumah.

Suara-suara itu selalu ada. Di mana-mana. Di setiap tempat yang kukunjungi, di setiap waktu, di tengah keramain, dan di sudut kesenyapan malam.

Aku tahu suara-suara itu telah berteriak setiap kali aku berusaha mendapatkan uang, memnuhi segala kebuthanku. Suara-suara itu berusaha menghentikanku, ketika dengan gesitnya kuraih dompet orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Suara-suara itu juga terus menggerecokiku ketika pertama kali aku kutemukan sebuah kenikmatanm di dunia ini. Kenikmatan yang membawaku pergi dari segala keruwetan dunia. Membawaku melupakan tiap jengkal ingatan akan seorang bocah yang tertatih melawan satu kekejaman bertajuk kehidupan.

Suara-suara itu terus meraung, menjerit, atau entah apalagi, namun aku, seperti yang terdahulu, tak akan menggubrisnya. Dan aku pun terus mnusukkan jarum yang mengalirka cairan bening ke dalam pembuluhku, cairan yang membawaku terbang, tak terjangkau, bahkan oleh suara-suara itu.

Lalu aku tahu aku telah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman suara-sura itu, dan berhasil menulikan diri darinya. Lama, tak perlu lagi ku dengar suara-suara itu.

Begitu lama hingga aku melupakannya. Hingga kini ku terbaring, di sudut kumuh sepi, tanpa seorang menyadari keberadaanku. Hingga kini ketika aku terperangkap dalam kesunyian, dan kegelapan beraroma maut yang memenjarakanku.

Gelap semakin pekat, juga menyesakkan, inikah yang kau rasakan sebelum kau hembuskan nafas terakhirmu? Inikah yang merka rasakan ketika maut menjemputmu? Atau hanya aku?

Sayup, di antara kepekatan yang menyiksaku. Kudengar isak, tangis suara yang begitu dekat, suara yang begitu kukenal.

Suara-suara itu kembali datang, seakan tak pernah meninggalkanku. Ah, ya. Dia tak pernah pergi, hanya saja telingaku terlalu tuli untuk mendengarnya, dan hatiku telah membatu untuk merasanya. Namun kini kudengar lagi, begitu jelas, dan keras. Begitu dekat hingga kuarasakan tubuhku melebur bersamanya. Seakan suara itu mengambil alih diriku, melumatku, bersama gelap yang pekat.

-d voice within-

jauh, di dalam diri kita, manusia, terdapat apa yang disebut nurani.

Bagian yang begitu halus, lembut, dan sering terlewatkan…

March 29, 2008 - Posted by poppota | simply writing | | 1 Comment

1 Comment »

  1. tau ga…emang…gue gitu lho….

    selalu ada di mana2..meninggalkan jejak indah pada mua manusia…

    tp aku ga sering terlewatkan kok…

    duh, ni q dah mulai gila ato narses yah???
    bingung????
    tanyain ja ma rumput yg b’goyang…

    Nb. rumputnya tua jd suka naik kursi goyang…

    beihhhhhh ra penting blasss!!!!

    biar rame, biar da yg kasi comment^^

    Comment by niknok | June 7, 2008 | Reply


Leave a comment