PoP’s blog

another pop’s simply thinks

untitled_

Untitled_being a no named star…

Perlahan sang surya tergelincir jatuh di ufuk Barat, melanjutkan tugas mulianya menyinari permukaan bola besar tempat umat manusia menghabiskan hidupnya.

Lampu-lampu jalan raya satu per satu berpendar mencoba memberi sedikit cahaya bagi lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang terus berjalan. Kehidupan terus berlanjut tak pedulikan rembulan yang menyembul di balik gedung-gedung tinggi. Ditemani hanya sedikit kerlip bintang yang samar-samar berkelip dan menghilang. Tertelan cahaya-cahaya buatan manusia yang mencoba menjadikan tiap saat benderang.

Di sudut jalan yang menikung, di pinggir trotoar yang membatasi area beraspal yang bagai tak pernah habis mobil berjalan di atasnya, tampak sebuah siluet dilatari tembok tinggi sebuah bangunan megah. Terduduk di tempat yang lebih gelap dan tak tampak mencolok, tangannya merangkul kedua lututnya sambil kepalanya bersandar di atasnya. Bocah kecil dengan pakaian kumal, rambut kusut yang dipotong asal-asalan serta kulit cokelat yang semakin gelap terbakar ganasnya matahari tropis.

Entah apa yang dilakukannya seorang diri, terpisah dari gerombolannya yang biasa. Dengan siapa dia biasa menghabiskan hari-harinya di bawah siraman ultraviolet, menentang debu dan asap kendaraan. Berlari-lari kecil dari satu mobil ke mobil lain, menjemput lampu merah di perempatan jalan. Terkadang dijajakannya koran-koran, atau ditawarkannya jasa untuk membersihkan kaca mobil yang sebetulnya tak perlu lagi dibersihkan, dan tak jarang hanya dibukanya telapak tangan mengharap selembar dua lembar ribuan meluncur dari jendela mobil yang tertutup rapat.

Wajah itu kini mendongak, menatap hitamnya langit yang membuatnya bagai sebuah lubang hitam yang siap menelannya kapanpun dia lengah. Begitu marah, matanya menyala, seakan ada kekuatan tersembunyi di balik tubuh ringkih itu. Namun dalam sekejap wajah itu melunak, bahkan menyiratkan kesedihan yang mendalam. Lalu tampak kemilau di sudut matanya, butir bening yang bercahaya ditimpa lampu yang remang itu, perlahan bergulir, membasahi wajah yang tertutup debu.

Ingin dia berteriak, meraung sejadi-jadinya, berlari sejauh mungkin, berkata sebanyak mungkin pada orang-orang itu, yang lalu lalang di jalan. Pada orang-orang itu, yang tiap hari dilihatnya duduk nyaman dalam belain udara Air Conditioner sementara dia terbatuk karena asap yang ditinggalkan kotak besi beroda itu.

Ingin di bilang, betapa tidak inginnya dia berdiri di sana, memaksa orang-orang kasihan kepadanya. Tak ingin dia di sana, di antara mobil-mobil yang berjubel di jalan raya. Tak ingin dia di sana, menjadi benalu bagi negeri tempat dia dilahirkan.

Ingin dia bilang pada semua, betapa dia ingin menjadi seseorang bagi negerinya, ingin dia bilang pada semua, betapa tak ingin dia rusak bangsa ini.

Namun siapakah dia? Hingga orang akan mendengarkan. Siapakah dia hingga orang akan peduli. Dialah si bukan siapa-siapa itu, dialah si bocah tak bernama. Terjebak bersama orang-orang yang hanya peduli nama.

Langit semakin pekat, seakan menyedot mobil-mobil yang tadi memenuhi jalan. Hanya tersisa satu dua mobil menembus hening dan gemerisik pohon.

Rembulan masih berpendar di atas sana. Sekilas, meski hanya sekilas, satu bintang berkelip. Menunjukkan eksistensinya di angkasa sana. Sebuah bintang tak bernama, yang redup cahayanya, namun turut serta dalam festival langit malam. Menjadi bagian dari keindahan malam.

Dan bahkan sebuah bintang tak bernama pun tetap memancarkan cahayanya.

Dan bahkan sebuah bintang tak bercahayapun menjadi bagian darinya, lukisan langit malam.

March 29, 2008 Posted by poppota | simply writing | | 1 Comment

suara suara

Di setiap detakan waktu, tersembunyi dalam pekat malam, berbaur dalam keheningan pagi dan terselubung di antara riuh rendah tiap hari, ada suara-suara yang begitu dekat namun teramat jauh untuk dijangkau. Suara-suara yang menggema, menggerecoki menenangkan, memberi kehangatan. Suara-suara yang selalu kita dengar, dengan atau tanpa sadar.

Ah, suara-suara itu. Begitu mengganggu di telingaku. Suara-suara yang tak dapat kuhentikan, seakan memiliki kuasanya sendiri untuk terus mengendap di otakku, mengiang di telingaku selayaknya segerombol lebah yang terbang dan berdengung.

Aku mengenali suara-suara itu, suara-suara yang selalu sama kudengar sejak entah kapan aku mampou mengingatnya.

Suara-suara yang sama, selalu suara itu, yang bertahun lalu mendengung di telingaku, mencegahku mengamuk memukul anak-anak berseragam putih merah, kawan-kawanku di tempat yang orang-orang sebut sekolah. Suara-suara yang memberikan rasa hangat, memberikan ketenangan, ketika kuterduduk di sudut kamar, mendengarkan teriakan-teriakan marah seorang pria yang kupanggil bapak ditingkahi isak tangis ibuku.

Aku tahu aku mendengar lagi suara-sura itu, seakan menemaniku ketika sendiri, kutinggalkan bangunan yang dulu kusebut rumah.

Suara-suara itu selalu ada. Di mana-mana. Di setiap tempat yang kukunjungi, di setiap waktu, di tengah keramain, dan di sudut kesenyapan malam.

Aku tahu suara-suara itu telah berteriak setiap kali aku berusaha mendapatkan uang, memnuhi segala kebuthanku. Suara-suara itu berusaha menghentikanku, ketika dengan gesitnya kuraih dompet orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Suara-suara itu juga terus menggerecokiku ketika pertama kali aku kutemukan sebuah kenikmatanm di dunia ini. Kenikmatan yang membawaku pergi dari segala keruwetan dunia. Membawaku melupakan tiap jengkal ingatan akan seorang bocah yang tertatih melawan satu kekejaman bertajuk kehidupan.

Suara-suara itu terus meraung, menjerit, atau entah apalagi, namun aku, seperti yang terdahulu, tak akan menggubrisnya. Dan aku pun terus mnusukkan jarum yang mengalirka cairan bening ke dalam pembuluhku, cairan yang membawaku terbang, tak terjangkau, bahkan oleh suara-suara itu.

Lalu aku tahu aku telah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman suara-sura itu, dan berhasil menulikan diri darinya. Lama, tak perlu lagi ku dengar suara-suara itu.

Begitu lama hingga aku melupakannya. Hingga kini ku terbaring, di sudut kumuh sepi, tanpa seorang menyadari keberadaanku. Hingga kini ketika aku terperangkap dalam kesunyian, dan kegelapan beraroma maut yang memenjarakanku.

Gelap semakin pekat, juga menyesakkan, inikah yang kau rasakan sebelum kau hembuskan nafas terakhirmu? Inikah yang merka rasakan ketika maut menjemputmu? Atau hanya aku?

Sayup, di antara kepekatan yang menyiksaku. Kudengar isak, tangis suara yang begitu dekat, suara yang begitu kukenal.

Suara-suara itu kembali datang, seakan tak pernah meninggalkanku. Ah, ya. Dia tak pernah pergi, hanya saja telingaku terlalu tuli untuk mendengarnya, dan hatiku telah membatu untuk merasanya. Namun kini kudengar lagi, begitu jelas, dan keras. Begitu dekat hingga kuarasakan tubuhku melebur bersamanya. Seakan suara itu mengambil alih diriku, melumatku, bersama gelap yang pekat.

-d voice within-

jauh, di dalam diri kita, manusia, terdapat apa yang disebut nurani.

Bagian yang begitu halus, lembut, dan sering terlewatkan…

March 29, 2008 Posted by poppota | simply writing | | 1 Comment